SUBANGINFO — Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Daddy Rohanady, menuangkan kritik dan refleksinya terhadap perjalanan pembangunan Jawa Barat melalui dua buku kumpulan sajak. Keduanya berjudul Sajak-sajak Pembangunan: Antara Perut dan Maut serta Sajak-sajak Pembangunan: Kertajati, yang dibedah dalam rangkaian Festival Literasi Jawa Barat 2026 di Dispusipda Jabar, Kota Bandung, Selasa (15/9/2026).
Dalam buku yang secara khusus membahas Kertajati, Daddy menyoroti perjalanan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang sejak awal diharapkan menjadi salah satu penggerak perekonomian Jawa Barat. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap perkembangan pengelolaan bandara tersebut dan menilai Jawa Barat kehilangan ruang pengelolaan langsung setelah kewenangan bandara berada di tingkat pemerintah pusat.
Daddy mengatakan, Kertajati memiliki arti khusus baginya karena sejak pembangunan awal bandara tersebut ia melihat potensi besar bagi konektivitas dan perekonomian Jawa Barat. Ia mengingat kembali momentum peletakan batu pertama BIJB Kertajati yang dihadiri Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan berharap bandara tersebut dapat menjadi akses utama masyarakat menuju dan dari Jawa Barat.
Tak hanya Kertajati, kedua buku tersebut memuat catatan Daddy mengenai berbagai sektor pembangunan yang ia temui selama menjalankan aktivitasnya. Mulai dari bidang perhubungan, infrastruktur jalan, hingga persoalan lingkungan seperti program Citarum Harum dan proyek sumber daya air yang menurutnya belum optimal.
Soroti Pengawasan dan Kinerja DPRD
Buku tersebut juga memuat refleksi Daddy mengenai dinamika politik dan peran partai dalam mengawasi kader yang duduk di lembaga legislatif. Ia menyinggung perubahan jumlah kursi Fraksi Gerindra di DPRD Jabar dari 25 kursi pada periode 2019-2024 menjadi 20 kursi pada periode berikutnya sebagai salah satu bahan evaluasi politik.
Menurut Daddy, partai memiliki peran dalam mengingatkan kadernya agar menjalankan tugas sebagai wakil rakyat dengan baik. Ia juga menyoroti pentingnya pelaksanaan fungsi reses DPRD sebagai ruang untuk menyerap aspirasi masyarakat di daerah pemilihan.
Pembahasan kedua buku tersebut turut diikuti sejumlah pelajar SMA dengan menghadirkan pembahas Hening Widiatmoko dan Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ateng Kusnandar. Melalui karya tersebut, Daddy tidak hanya menyampaikan pandangan mengenai pembangunan, tetapi juga mencatat pengalaman dan pengamatannya terhadap berbagai persoalan di Jawa Barat.
Di hadapan generasi muda, Daddy turut menyampaikan pesan mengenai pentingnya budaya membaca dan belajar. Ia berharap literasi menjadi bagian dari kebiasaan generasi muda agar mereka mampu memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitar sekaligus membangun cara pandang yang lebih kritis terhadap perkembangan daerah.

