BANDUNG — Sebanyak 15 mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengunjungi Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Pendidikan Multibudaya yang diampu Dr. Nandang Budiman, S.Pd., M.Si., dan Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons.
Melalui orientasi lapangan tersebut, mahasiswa berkesempatan mempelajari secara langsung bagaimana kearifan lokal Sunda, nilai keagamaan, dan prinsip multikulturalisme diterapkan dalam kehidupan masyarakat adat. Pengamatan ini juga menjadi sarana untuk memahami hubungan antara tradisi, perilaku sosial, serta upaya masyarakat menjaga keharmonisan hidup.
Salah satu nilai yang dipelajari adalah falsafah “ajrig”, yakni prinsip hidup sederhana dengan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Nilai tersebut tercermin dalam ungkapan tradisional “panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung”, yang mengajarkan pentingnya rasa syukur, penerimaan terhadap keadaan, serta sikap tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan.
Selain kesederhanaan, masyarakat Kampung Adat Cikondang juga menjunjung tinggi adab dan etika dalam hubungan antarmanusia maupun dengan lingkungan. Aturan adat dan kepemimpinan tradisional menjadi bagian dari tata kehidupan yang menjaga sikap saling menghormati sekaligus memperkuat keharmonisan sosial.
Mahasiswa juga mempelajari keberadaan Hutan Larangan yang terus dijaga oleh masyarakat adat. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis sebagai penyangga lingkungan dan sumber mata air. Di samping itu, Hutan Larangan menyimpan nilai historis yang berkaitan dengan jejak penyebaran Islam di wilayah Cikondang.
Tradisi Adat Muharram atau Wuku Taun turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. Ritual yang diselenggarakan setiap 15 Muharram ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi dan melestarikan warisan leluhur. Masyarakat adat, termasuk warga yang merantau ke luar wilayah, diharapkan tetap berpartisipasi dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Dosen pengampu berharap pembelajaran berbasis pengamatan langsung ini dapat membantu mahasiswa memahami keanekaragaman budaya secara lebih komprehensif. Kearifan lokal Kampung Adat Cikondang diharapkan menjadi sumber pembelajaran mengenai pembentukan karakter, kesehatan mental, dan harmoni sosial yang berakar pada nilai-nilai budaya luhur.
Kunjungan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran multibudaya tidak hanya diperoleh melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Dengan mengenali tradisi dan nilai kehidupan komunitas adat, mahasiswa dapat memperluas pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

