Close Menu
Subanginfo.idSubanginfo.id
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kapolsek Pamanukan Rangkul Anak Seni SD Sukasari, Edukasi Bahaya Bullying dan Tawuran

14 Oktober 2026

Haji Tatang Heryani Raih Nomor Urut 3, Siap Wujudkan Sukasari MASAGI

14 Oktober 2026

Kapolsek Pamanukan Rangkul Empat Calon Kades Batangsari, Pilkades Diminta Tetap Kondusif

14 Oktober 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Subanginfo.idSubanginfo.id
Rabu, Oktober 14
Facebook Instagram TikTok
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Subanginfo.idSubanginfo.id
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Home»Artikel»Mahasiswa UPI Pelajari Kearifan Lokal Sunda dan Nilai Multikulturalisme di Kampung Adat Cikondang
Artikel

Mahasiswa UPI Pelajari Kearifan Lokal Sunda dan Nilai Multikulturalisme di Kampung Adat Cikondang

HafidhBy Hafidh13 Oktober 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
WhatsApp Facebook Copy Link Telegram Email Tumblr Threads
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email WhatsApp Copy Link

BANDUNG — Sebanyak 15 mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengunjungi Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Pendidikan Multibudaya yang diampu Dr. Nandang Budiman, S.Pd., M.Si., dan Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons.

Melalui orientasi lapangan tersebut, mahasiswa berkesempatan mempelajari secara langsung bagaimana kearifan lokal Sunda, nilai keagamaan, dan prinsip multikulturalisme diterapkan dalam kehidupan masyarakat adat. Pengamatan ini juga menjadi sarana untuk memahami hubungan antara tradisi, perilaku sosial, serta upaya masyarakat menjaga keharmonisan hidup.

Salah satu nilai yang dipelajari adalah falsafah “ajrig”, yakni prinsip hidup sederhana dengan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Nilai tersebut tercermin dalam ungkapan tradisional “panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung”, yang mengajarkan pentingnya rasa syukur, penerimaan terhadap keadaan, serta sikap tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan.

Selain kesederhanaan, masyarakat Kampung Adat Cikondang juga menjunjung tinggi adab dan etika dalam hubungan antarmanusia maupun dengan lingkungan. Aturan adat dan kepemimpinan tradisional menjadi bagian dari tata kehidupan yang menjaga sikap saling menghormati sekaligus memperkuat keharmonisan sosial.

Mahasiswa juga mempelajari keberadaan Hutan Larangan yang terus dijaga oleh masyarakat adat. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis sebagai penyangga lingkungan dan sumber mata air. Di samping itu, Hutan Larangan menyimpan nilai historis yang berkaitan dengan jejak penyebaran Islam di wilayah Cikondang.

Tradisi Adat Muharram atau Wuku Taun turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. Ritual yang diselenggarakan setiap 15 Muharram ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi dan melestarikan warisan leluhur. Masyarakat adat, termasuk warga yang merantau ke luar wilayah, diharapkan tetap berpartisipasi dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

Dosen pengampu berharap pembelajaran berbasis pengamatan langsung ini dapat membantu mahasiswa memahami keanekaragaman budaya secara lebih komprehensif. Kearifan lokal Kampung Adat Cikondang diharapkan menjadi sumber pembelajaran mengenai pembentukan karakter, kesehatan mental, dan harmoni sosial yang berakar pada nilai-nilai budaya luhur.

Kunjungan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran multibudaya tidak hanya diperoleh melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Dengan mengenali tradisi dan nilai kehidupan komunitas adat, mahasiswa dapat memperluas pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kampung Adat Cikondang Mahasiswa UPI Universitas Pendidikan Indonesia
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Hafidh

jurnalis

Related Posts

Kapolsek Pamanukan Rangkul Anak Seni SD Sukasari, Edukasi Bahaya Bullying dan Tawuran

14 Oktober 2026

Haji Tatang Heryani Raih Nomor Urut 3, Siap Wujudkan Sukasari MASAGI

14 Oktober 2026

Kapolsek Pamanukan Rangkul Empat Calon Kades Batangsari, Pilkades Diminta Tetap Kondusif

14 Oktober 2026

Neng Tita Tak Pernah Lelah Layani Masyarakat, Warga Nanggerang Beri Apresiasi

13 Oktober 2026

Polisi Bersama Masyarakat, Kapolsek Pamanukan Perkuat Kamtibmas Lewat Sapa RT Sapa RW

13 Oktober 2026

Jadi Pembina Upacara, Kapolsek Pamanukan Ajak Pelajar SMK Darul Ma’arif Taat Aturan dan Jauhi Tawuran

12 Oktober 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Don't Miss
Artikel

Kapolsek Pamanukan Rangkul Anak Seni SD Sukasari, Edukasi Bahaya Bullying dan Tawuran

14 Oktober 2026

Subang – Upaya membangun kedekatan antara kepolisian dengan masyarakat terus dilakukan jajaran Polsek Pamanukan. Salah…

Haji Tatang Heryani Raih Nomor Urut 3, Siap Wujudkan Sukasari MASAGI

14 Oktober 2026

Kapolsek Pamanukan Rangkul Empat Calon Kades Batangsari, Pilkades Diminta Tetap Kondusif

14 Oktober 2026

Neng Tita Tak Pernah Lelah Layani Masyarakat, Warga Nanggerang Beri Apresiasi

13 Oktober 2026
Our Picks
Stay In Touch
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Facebook Instagram TikTok
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman media
© 2026 subanginfo.id

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.