Rancasari- Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak yang dijadwalkan berlangsung sekitar satu tahun mendatang, suasana politik di Desa Rancasari, Kecamatan Pamanukan, masih terlihat adem ayem.
Tidak seperti di sejumlah desa tetangga, hingga kini belum ada tokoh atau figur yang secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai bakal calon kepala desa.
Fenomena ini cukup kontras dengan kondisi di desa-desa lain di wilayah Pamanukan. Di Desa Pamanukan, Mulyasari, maupun Pamanukan Hilir, sudah mulai bermunculan nama-nama yang digadang-gadang maju pada kontestasi Pilkades mendatang.
Bahkan, sebagian dari mereka sudah aktif bersosialisasi ke masyarakat, melakukan silaturahmi dari rumah ke rumah, hingga menghadiri berbagai kegiatan kemasyarakatan sebagai ajang untuk mendekatkan diri dengan warga.
“Kalau di Rancasari masih sepi, belum ada yang terlihat bergerak. Berbeda dengan desa lain yang sudah ramai calon muncul dan melakukan sosialisasi,” ujar salah seorang warga Rancasari yang enggan disebutkan namanya saat ditemui pada Sabtu (6/9/2025).
Menurut warga tersebut, masyarakat Rancasari masih menunggu siapa saja figur yang akan tampil. Dengan waktu persiapan yang masih cukup panjang, warga berharap bakal calon yang nantinya maju benar-benar memiliki visi untuk membangun desa serta mampu mendengar aspirasi masyarakat.
“Harapan warga tentu ingin pemimpin yang bisa membawa perubahan dan perhatian nyata untuk desa,” tambahnya.
Minimnya pergerakan calon di Rancasari diperkirakan karena beberapa faktor. Salah satunya adalah tradisi politik lokal, di mana sejumlah tokoh biasanya baru menyatakan diri maju menjelang waktu pendaftaran resmi. Selain itu, ada pula dugaan bahwa para tokoh masih melakukan konsolidasi internal dengan keluarga maupun kelompok pendukung sebelum tampil ke publik.
Meski suasana masih sepi, sejumlah pengamat lokal menilai kondisi ini justru bisa menjadi keuntungan bagi masyarakat Rancasari. Dengan belum adanya calon yang mendeklarasikan diri, warga memiliki kesempatan lebih panjang untuk menimbang dan menilai siapa figur terbaik yang layak memimpin desa mereka ke depan.
Sementara itu, di desa lain yang sudah lebih dahulu ramai dengan bakal calon, tensi politik mulai meningkat. Para kandidat gencar melakukan pendekatan ke warga, baik melalui jalur formal maupun nonformal. Hal ini dinilai wajar karena Pilkades kerap menjadi pesta demokrasi paling dekat dengan masyarakat dan selalu menyedot perhatian luas.
Masyarakat Rancasari berharap, meski nantinya persaingan bakal berlangsung ketat, Pilkades tetap berjalan damai, aman, dan tertib. Warga juga menginginkan proses demokrasi di tingkat desa ini benar-benar menghasilkan pemimpin yang bisa menjadi pengayom sekaligus motor penggerak pembangunan.

