Pamanukan – Suasana politik di tingkat desa mulai terasa sejak dini. Meski tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kecamatan Pamanukan masih akan digelar sekitar satu tahun mendatang, geliat para bakal calon kepala desa sudah tampak di tengah masyarakat.
Beberapa tokoh yang berencana maju dalam kontestasi tersebut mulai bergerak melakukan sosialisasi, berkunjung ke warga, sekaligus menjalin silaturahmi untuk menarik simpati.
Salah seorang bakal calon kepala desa Pamanukan yang tidak ingin disebutkan namanya mengakui, langkah turun lebih awal ini dilakukan agar dirinya bisa lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memahami kebutuhan warga. Ia menilai, seorang calon pemimpin desa tidak hanya hadir menjelang pencoblosan, tetapi harus mampu mendengar aspirasi sejak awal agar kelak program yang dirumuskan benar-benar sesuai dengan harapan warga.
“Pilkades memang masih lama, sekitar satu tahun lagi.
tetapi saya merasa penting untuk mendengarkan suara masyarakat lebih awal. Apa yang menjadi keluhan mereka, apa yang harus diperbaiki, semuanya harus dicatat. Dengan begitu, jika dipercaya memimpin desa nanti, program kerja bisa lebih terarah,” ungkapnya saat ditemui, Sabtu (6/6/2025).
Ia menambahkan, sosialisasi dini juga menjadi sarana mempererat hubungan emosional dengan masyarakat. Dengan sering hadir di tengah-tengah warga, ia berharap mampu membangun kepercayaan, sekaligus memperlihatkan komitmen bahwa dirinya siap bekerja untuk kemajuan desa.
Fenomena calon yang bergerilya lebih awal ini menjadi sinyal bahwa kontestasi Pilkades di Pamanukan berpotensi berlangsung cukup dinamis. Tidak hanya mengandalkan popularitas, bakal calon juga mulai menawarkan gagasan dan visi untuk membangun desa.
Warga pun kini sudah mulai menaruh perhatian pada figur-figur yang bermunculan, bahkan sebagian sudah mulai membicarakan siapa sosok yang dianggap layak memimpin desa. Sejumlah tokoh masyarakat menyambut positif langkah para bakal calon tersebut.
Menurut mereka, komunikasi sejak dini memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, baik terkait pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, maupun pemberdayaan ekonomi desa. Namun demikian, warga juga berharap seluruh proses sosialisasi dilakukan dengan cara yang sehat, santun, dan tidak menimbulkan gesekan di masyarakat.
“Kalau sosialisasi dilakukan dengan damai dan mengedepankan gagasan, tentu masyarakat akan lebih nyaman. Jangan sampai Pilkades menimbulkan perpecahan. Kami berharap siapapun yang maju tetap menjaga persatuan,” ujar salah seorang warga setempat.
Dengan kondisi seperti ini, meski pesta demokrasi di tingkat desa masih terhitung lama, tensi politik di Pamanukan sudah mulai menghangat. Situasi ini diperkirakan akan terus meningkat seiring semakin dekatnya jadwal resmi penyelenggaraan Pilkades.

