BANDUNG BARAT — Pakar geologi kebencanaan Universitas Padjadjaran (Unpad), Dicky Muslim, mengungkapkan bahwa bencana longsor yang kerap terjadi di Jawa Barat dipengaruhi oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Hal tersebut disampaikannya saat membahas peristiwa longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dan menelan puluhan korban jiwa.
Dicky menjelaskan, Jawa Barat memiliki catatan panjang bencana serupa. Ia menyinggung kejadian banjir bandang di Garut yang diawali longsor di wilayah hulu sungai, serta peristiwa longsor di Cimanggung, Sumedang, pada Januari 2021 yang juga menelan korban, termasuk relawan.
Menurutnya, kondisi geologi Jawa Barat didominasi oleh lereng-lereng curam yang secara alami rentan terhadap longsor, terutama saat musim hujan. Saat meninjau lokasi longsor di Pasirlangu, Dicky menemukan masih banyak wilayah di sekitarnya yang memiliki tingkat kemiringan lereng lebih ekstrem dan berpotensi mengalami bencana serupa.
“Ini menjadi catatan penting. Bisa jadi wilayah tersebut belum mengalami bencana karena belum waktunya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa bencana longsor dapat terjadi berulang akibat faktor yang dapat diprediksi maupun yang sulit diperkirakan. Karena itu, daerah dengan karakter morfologi serupa, terutama yang mengalami pembukaan lahan di lereng curam, harus meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.
Dicky menyoroti wilayah Bandung Raya, khususnya Kabupaten Bandung Barat bagian utara dan barat, sebagai kawasan yang kerap mengalami longsor. Faktor utama yang berperan antara lain kemiringan lereng yang tinggi serta tekanan kebutuhan lahan yang mendorong pemanfaatan area rawan untuk pertanian dan permukiman.
Selain itu, faktor air juga menjadi pemicu signifikan. Keberadaan air permukaan, air bawah tanah, hingga mata air di lereng curam dapat memperbesar potensi longsor, terlebih saat curah hujan tinggi.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menyatakan bahwa pada Sabtu lalu terjadi dua titik longsor di Bandung Barat, yakni di Pasirlangu dan Lembang. Ia menduga intensitas hujan tinggi serta perubahan fungsi lahan menjadi penyebab utama.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut menyoroti persoalan alih fungsi lahan. Menurutnya, kawasan dengan kemiringan tinggi yang seharusnya menjadi hutan bambu kini berubah menjadi perkebunan sayuran, sehingga meningkatkan risiko longsor. Ia menegaskan perlunya pembenahan tata ruang agar bencana serupa tidak terus berulang.
