Subang – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sejumlah petani di Kampung Ciistal terpaksa melakukan panen lebih awal akibat kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengairi sawah mereka.
Kondisi kekeringan yang melanda lahan pertanian membuat tanaman padi tidak berkembang secara optimal. Akibatnya, hasil panen diperkirakan menurun dan berdampak langsung pada pendapatan petani dibandingkan musim tanam normal.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Subang, kekeringan telah berdampak pada 45 desa di 15 kecamatan. Luas lahan persawahan yang mengalami kekeringan tercatat mencapai 1.348 hektare.
Keterbatasan air irigasi membuat sebagian petani memilih memanen tanaman lebih cepat untuk mengurangi risiko kerusakan yang lebih besar apabila sawah dibiarkan mengering terlalu lama.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun ini mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026.
Dalam konferensi pers terbaru, Kepala BMKG juga menyampaikan bahwa memasuki Oktober hingga November 2026, curah hujan dengan kategori tinggi diperkirakan mulai muncul di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air, terutama di daerah-daerah yang masih mengandalkan sumber air permukaan dan irigasi teknis untuk mendukung produksi padi.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memantau perkembangan kekeringan serta menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kerugian yang dialami petani di wilayah terdampak.

