Subang Info – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 1 Oktober 2025, kembali menunjukkan pelemahan setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Di akhir perdagangan, IHSG harus rela parkir di zona merah dengan penurunan 0,21% atau terkoreksi 17,18 poin ke level 8.043,82.
Baca Juga : BPI Danantara Lirik Investasi Pangan dan Kesehatan di Eropa, Siap Gandeng Perusahaan Global
Pelemahan ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar masih cenderung negatif, meskipun sempat ada dorongan positif di awal sesi. Pada perdagangan pagi, IHSG bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi harian di level 8.093,69, yang merupakan harga pembukaan. Namun seiring berjalannya waktu, tekanan jual semakin besar sehingga indeks merosot hingga mendekati titik terendah harian di level 8.034,25 sebelum akhirnya ditutup.
Sektor Penyebab Pelemahan IHSG
Sejumlah sektor menjadi kontributor utama penurunan IHSG. Berdasarkan data perdagangan, sektor konsumen primer, transportasi, dan keuangan tercatat sebagai penyumbang pelemahan terbesar.
- Sektor konsumen primer turun sekitar 1,02% akibat tekanan pada beberapa emiten besar di subsektor makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga.
- Sektor transportasi ikut terkoreksi hingga 0,97%, dipicu pelemahan saham perusahaan logistik maupun maskapai.
- Sektor keuangan juga melemah sebesar 0,69%, dengan saham perbankan menjadi salah satu yang paling banyak dilepas investor.
Koreksi di ketiga sektor ini cukup signifikan sehingga menarik indeks komposit kembali ke zona merah, meskipun ada beberapa saham dari sektor energi dan tambang yang sempat menopang.
Data Perdagangan: Investor Lebih Banyak Melepas Saham
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut mencatatkan volume perdagangan hingga 59,47 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp23,98 triliun dengan frekuensi sebanyak 2,84 juta kali.
Dari total emiten yang tercatat, terdapat:
- 378 saham ditutup melemah,
- 289 saham mampu menguat,
- 130 saham stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Kondisi ini menandakan bahwa mayoritas investor lebih memilih melakukan aksi ambil untung (profit taking), sehingga tekanan jual lebih dominan dibandingkan dorongan beli.
Sentimen yang Mempengaruhi IHSG
Sejumlah faktor eksternal dan internal turut memengaruhi pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin. Dari faktor global, investor masih mencermati isu shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada pasar keuangan global. Meskipun rupiah justru berhasil menguat sekitar 0,33% terhadap dolar AS, hal ini belum cukup untuk menopang pasar saham domestik.
Baca Juga : Seremoni Pencatatan Perdana Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) di Bursa Efek Indonesia
Selain itu, ramainya aksi Initial Public Offering (IPO) dalam beberapa bulan terakhir juga menjadi perhatian. Banyaknya saham baru di pasar memberi tekanan tambahan, terutama ketika kinerja beberapa emiten hasil IPO belum sesuai ekspektasi sehingga sebagian investor mencatat kerugian.
Peluang di Balik Koreksi IHSG
Meski IHSG terkoreksi, bukan berarti tidak ada peluang. Koreksi indeks justru sering kali membuka ruang bagi investor untuk mengoleksi saham-saham pilihan dengan harga lebih murah. Menurut sejumlah analis, tren jangka panjang IHSG masih cukup positif seiring dengan stabilitas ekonomi dalam negeri serta pertumbuhan sektor riil.
Pada perdagangan Kamis, 2 Oktober 2025, sejumlah broker telah merilis rekomendasi saham pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati. Saham-saham ini umumnya masih memiliki prospek pertumbuhan, baik dari sisi fundamental maupun teknikal.
Rekomendasi Saham Hari Ini Kamis, 2 Oktober 2025
Berikut daftar saham rekomendasi dari beberapa sekuritas besar yang bisa dijadikan pertimbangan oleh investor:
1. BRI Danareksa Sekuritas
- BRMS (Bumi Resources Minerals)
- BKSL (Sentul City Tbk)
- BUVA (Bukit Uluwatu Villa)
2. BNI Sekuritas
- BUMI (Bumi Resources)
- MBMA (Merdeka Battery Materials)
- EMTK (Elang Mahkota Teknologi)
- MLPL (Multipolar Tbk)
- BRPT (Barito Pacific)
- COIN (Coin International)
3. Phillip Sekuritas
- JPFA (Japfa Comfeed Indonesia)
- BBHI (Allo Bank)
- PSAB (J Resources Asia Pasifik)
4. MNC Sekuritas
- BUKA (Bukalapak)
- ICBP (Indofood CBP Sukses Makmur)
- KRAS (Krakatau Steel)
- MINA (Sanur Marina Realty)
5. CGS International Sekuritas
- BTPS (Bank BTPN Syariah)
- PSAB
- ARCI (Archi Indonesia)
- HRTA (Hartadinata Abadi)
- ANTM (Aneka Tambang)
- BRPT
6. Phintraco Sekuritas
- UNVR (Unilever Indonesia)
- ANTM
- JPFA
- MAIN (Malindo Feedmill)
- PYFA (Pyridam Farma)
7. Panin Sekuritas
- ADMR (Adaro Minerals)
- TLKM (Telkom Indonesia)
- BRIS (Bank Syariah Indonesia)
8. Mirae Asset Sekuritas
- AADI (Asuransi Bintang)
- ADES (Akasha Wira International)
- HRTA
- COCO (Wahana Pronatural)
- OASA (Protech Mitra Perkasa)
- OILS (Indo Oil Perkasa)
9. Samuel Sekuritas
- BBCA (Bank Central Asia)
- BUMI
- TINS (Timah Tbk)
- HRUM (Harum Energy)
- BKSL
- FILM (MD Pictures)
Analisis: Sektor yang Layak Dicermati
Beberapa analis menilai sektor tambang, energi, dan teknologi masih berpeluang mencatatkan penguatan. Harga komoditas global yang relatif stabil memberi ruang bagi emiten tambang seperti ANTM, TINS, dan HRUM untuk tetap menarik.
Sementara itu, saham teknologi seperti BUKA dan EMTK dinilai potensial seiring tren digitalisasi dan meningkatnya transaksi online. Dari sektor keuangan, saham perbankan besar seperti BBCA dan BRIS juga tetap layak dipertimbangkan karena prospek pertumbuhan kredit dan digital banking yang semakin kuat.
Meskipun IHSG ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 1 Oktober 2025, hal ini bukanlah akhir dari tren positif pasar modal Indonesia. Koreksi yang terjadi justru membuka peluang akumulasi di saham-saham tertentu. Investor disarankan tetap mencermati sentimen global, pergerakan rupiah, serta kinerja emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Rekomendasi saham hari ini dari berbagai sekuritas menunjukkan beragam sektor yang masih menarik, mulai dari tambang, energi, konsumer, hingga teknologi. Dengan strategi yang tepat, investor tetap bisa meraih peluang di tengah volatilitas pasar.
