SUBANG – Di tengah tantangan lingkungan dan meningkatnya kesadaran akan produk ramah lingkungan, lahir sebuah kisah inspiratif dari Subang. Dakey House, sebuah UMKM yang namanya diambil dari gabungan nama anak pertama pemilik (Darrell dan Kezia), sukses mengubah limbah kelapa muda menjadi produk zero waste bernilai jual tinggi.
Usaha ini dirintis pada akhir tahun 2021, tepat saat pandemi COVID-19 mulai mereda. Pemilik Dakey House, yang akrab disapa “ibu Leni,” mengaku tergerak melihat isu sampah yang mengemuka di Subang. Meskipun Subang bukan daerah penghasil kelapa utama, limbah kelapa muda disekitaran wilayah Subang cukup melimpah
“Subang memang bukan penghasil utama, tapi kami memiliki limbah kelapa muda yang cukup banyak dari para pedagang kelapa muda diwilayah Subang. Kami ingin minimal limbah ini diolah dan dikembalikan lagi ke alam,” jelas pemilik Dakey House, menceritakan motivasinya.
Inovasi Alami Tanpa Bahan Kimia

Berbekal ide dan semangat untuk berkontribusi pada lingkungan, usaha ini dimulai dari modal yang sangat minim, hanya Rp100 ribu. Sejak awal, Dakey House berkomitmen penuh pada konsep zero waste, di mana seluruh bahan baku dari alam diolah tanpa menggunakan bahan kimia, memastikan bahwa sisa atau akhir produk dapat terurai menjadi kompos.Produk yang dihasilkan sangat beragam, diciptakan secara bertahap seiring perkembangan pasar:
Media Tanam: Mulai dari Cocopeat, yaitu serbuk kelapa murni yang berfungsi sebagai media tanam bebas bahan kimia.
Rumah Tangga Eco-Friendly: Pot dari serat kelapa, spons cuci piring, dan produk hampers seperti kotak tisu. Spons cuci piring dari Dakey House ini menjadi alternatif alami pengganti spons sintesis.
Inovasi Produk Turunan: Pengembangan produk seperti Cocosheet, yang dibuat sebagai alas sandal hotel menggunakan serabut kelapa, menunjukkan inovasi yang menjangkau segmen bisnis.
Menembus Pasar Kota Besar, Mengedukasi Pasar Lokal
Meskipun Dakey House beroperasi di Subang dan telah berumur hampir empat tahun, segmen pasar utamanya adalah masyarakat perkotaan, khususnya di Jakarta dan Bandung, yang dinilai memiliki literasi dan kepedulian tinggi terhadap produk berkelanjutan. Keberhasilan ini terbukti dengan jangkauan distribusi yang sudah mencapai Aceh melalui distributor.Namun, Dakey House menghadapi tantangan terbesar di daerahnya sendiri.
“Pasar di Subang cenderung mencari yang murah dan praktis. Tugas kami di sini adalah mengedukasi,” ungkapnya.
Untuk menjangkau dan mengedukasi warga, Dakey House sesekali melakukan penjualan di Lapangan Bintang Subang di hari minggu. Upaya ini merupakan pengembalian ke kearifan lokal, mengingatkan masyarakat pada kebiasaan menggunakan serabut kelapa di masa lalu, yang kini disempurnakan dengan inovasi modern. Melalui edukasi, Dakey House berharap masyarakat Subang perlahan dapat beralih ke pilihan produk yang lebih eco-friendly.
Keberhasilan Dakey House membuktikan bahwa inovasi ramah lingkungan dapat lahir dan berkembang pesat dari Subang, membawa nama daerah ini ke peta persaingan UMKM nasional
