Pemerintah Kabupaten Subang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyusun strategi mitigasi untuk mengantisipasi ancaman penurunan muka tanah dan banjir rob yang terus mengintai kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Subang.
Kajian tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Subang bersama BRIN sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan berbasis riset dan data ilmiah.
Fokus kajian mencakup lima kecamatan di wilayah pesisir, yakni Legonkulon, Pamanukan, Blanakan, Sukasari, dan Pusakanagara. Kelima wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir rob akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.
Berdasarkan hasil penelitian BRIN, laju penurunan tanah di kawasan pesisir Subang berkisar antara 1,2 hingga 2,8 sentimeter per tahun. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa langkah mitigasi yang memadai, potensi banjir rob diperkirakan akan semakin meningkat.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BP4D Kabupaten Subang, Eti Maryati, mengatakan hasil kajian tersebut akan menjadi acuan penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
“Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam perencanaan pembangunan daerah, khususnya untuk mengurangi risiko penurunan tanah dan banjir rob di kawasan pesisir Subang,” ujar Eti, Jumat (3/7/2026).
Pemerintah daerah berharap hasil kajian bersama BRIN dapat melahirkan rekomendasi yang aplikatif untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir sekaligus meminimalkan dampak bencana terhadap masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan Pantura Subang.
