SUMEDANG – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bersama DPRD Provinsi Jawa Barat menggelar kolaborasi edukasi untuk membentengi anak-anak dari dampak negatif konten digital dan internet. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SDN Jatihurip, Kabupaten Sumedang, pada Kamis (18/6), dengan melibatkan siswa serta orang tua.
Edukasi dilakukan melalui metode storytelling bertema perlindungan anak dan perempuan, yang bertujuan mengenalkan pemanfaatan media penyiaran serta pentingnya penggunaan internet secara sehat sejak usia dini.
Ketua KPID Jawa Barat, KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menegaskan bahwa anak-anak saat ini menghadapi tantangan serius akibat derasnya arus informasi digital. Menurutnya, paparan konten tanpa pengawasan orang tua berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis dan perilaku anak.
Ia menjelaskan bahwa kebebasan akses gawai tanpa kontrol dapat berdampak pada gangguan perkembangan kognitif, yang kemudian memengaruhi sikap dan emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut, kata dia, dapat memicu perilaku seperti mudah marah, berkata kasar, hingga melawan orang tua.
Adiyana juga menyebutkan bahwa pendekatan storytelling dipilih karena dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak dibandingkan metode ceramah konvensional. Model ini dianggap mampu membuat pesan edukatif lebih mudah dipahami oleh siswa maupun orang tua.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga penyiaran, sekolah, dan orang tua sangat penting untuk menghadapi dampak negatif penggunaan gawai pada anak.
Menurut Ineu, Jawa Barat sebenarnya telah memiliki regulasi terkait perlindungan anak. Namun, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat menuntut adanya penguatan aturan yang lebih spesifik, terutama untuk menghadapi ancaman konten berbahaya di dunia maya.
Ia menambahkan bahwa DPRD Jawa Barat bersama pemerintah daerah sebelumnya telah menjalankan program pendidikan demokrasi untuk siswa tingkat SMA. Namun, program edukasi di tingkat SD dan SMP seperti yang dilakukan di SDN Jatihurip dinilai lebih strategis sebagai langkah pencegahan dini dalam membentuk karakter anak.
Ineu juga mengingatkan bahwa tanpa kolaborasi semua pihak, upaya menciptakan generasi emas Indonesia 2045 akan sulit tercapai. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mengawasi ruang digital anak.
Kepala SDN Jatihurip, Yati Sumiati, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi berbasis storytelling sangat membantu guru, siswa, dan orang tua dalam memahami bahaya konten digital negatif. Menurutnya, metode tersebut merupakan pendekatan baru yang efektif dan mudah diterima oleh anak-anak.
