Subang – Suasana duka masih menyelimuti keluarga seorang lansia bernama Hena (66), warga Dusun Kedung Gede RT 24 Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, yang ditemukan tewas secara tragis pada Sabtu (4/10/2025) sekitar pukul 10.00 WIB. Kasus ini mengguncang warga setempat, terlebih setelah pihak keluarga korban, terutama anaknya, menumpahkan isi hatinya melalui unggahan media sosial yang sarat emosi dan kekecewaan.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, akun bernama Thiee Theaa menuliskan curahan hati pedih. Ia menuduh bahwa ayahnya telah menjadi korban kebiadaban orang-orang di sekitar mereka. “Bapak saya kalian bunuh, rumah saya kalian rusak!” tulisnya dengan nada penuh kemarahan. Ia juga mengungkapkan bahwa sang ayah pernah difitnah menanam ganja hingga sempat mendekam di penjara. Unggahan itu menggambarkan betapa panjang penderitaan keluarga korban, bahkan sebelum tragedi berdarah ini terjadi.
Thiee Theaa dengan tegas menuliskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam atas kematian ayahnya. Ia menyebut akan menuntut keadilan, mengejar siapa pun yang telah menghabisi nyawa ayahnya dan merusak rumah mereka. “Hukum tabur tuai itu ada! Saya akan kejar orang yang bunuh bapak saya!” tulisnya lagi, menandakan tekad kuat untuk memperjuangkan keadilan bagi sang ayah.

Kronologi Kejadian: Teguran Berujung Tragis
Berdasarkan laporan pihak kepolisian, korban Hena ditemukan tewas di dalam rumahnya dalam kondisi mengenaskan. Polisi menduga kuat bahwa pria lanjut usia tersebut menjadi korban tindak kekerasan. Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono melalui Kasatreskrim AKP Bagus Panuntun membenarkan peristiwa tersebut.
“Kami masih melakukan penyelidikan hingga saat ini. Korban tewas diduga akibat tindak kekerasan. Di TKP kami menemukan beberapa buah batu di sekitar jasad korban,” jelas AKP Bagus Panuntun.
Menurut keterangan sejumlah saksi, peristiwa bermula pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, tiga pria diduga dalam pengaruh alkohol datang ke depan rumah korban sambil berteriak mencari seseorang bernama Rendi. Karena merasa terganggu dengan keributan itu, korban sempat menegur ketiga pria tersebut agar tidak membuat gaduh di malam hari.
Namun teguran itu justru memicu amarah. Ketiga pelaku kemudian melempari rumah korban dengan batu. Aksi brutal mereka sempat terhenti setelah dilerai warga sekitar. Akan tetapi, bukannya pergi untuk selamanya, ketiga pria itu kembali lagi beberapa saat kemudian dalam keadaan mabuk dan melanjutkan aksi mereka.
Kali ini, mereka melempar batu dan bambu ke arah rumah korban dengan lebih beringas. Salah satu lemparan mengenai tubuh korban dan menyebabkan luka parah. Sayangnya, nyawa Hena tidak tertolong. Ia meninggal dunia akibat luka serius yang diakibatkan oleh lemparan batu tersebut.
Pelaku Berprofesi sebagai Pengamen
Polisi bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut. Berdasarkan hasil penyelidikan, tiga orang pria berhasil diamankan karena diduga kuat terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Ketiganya berinisial MA (16), DS (28), dan K (30), yang sehari-hari dikenal sebagai pengamen jalanan di sekitar wilayah Pamanukan.
“Ketiga orang yang diduga pelaku sudah kami amankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh Satreskrim Polres Subang,” ujar AKP Bagus Panuntun.
Pihak kepolisian juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan sendiri. “Kami memahami duka keluarga korban, tetapi proses hukum sedang berjalan. Kami akan berupaya maksimal agar kasus ini segera terungkap dengan terang,” tambahnya.
Ungkapan Emosi Anak Korban di Media Sosial
Sementara penyelidikan berlangsung, unggahan dari anak korban menjadi sorotan di dunia maya. Status yang diunggah oleh Thiee Theaa menggambarkan kemarahan, kesedihan, dan rasa kecewa mendalam terhadap lingkungan sekitar. Ia menuding bahwa sebagian warga justru memilih diam saat ayahnya dianiaya, padahal sebelumnya banyak yang sering berkomentar buruk tentang ayahnya.
“Mana tetangga yang mulutnya paling lancang soal bapak saya? Sekarang kalian diam di rumah!” tulisnya dengan nada getir. Ia bahkan menyindir orang-orang yang dulu menuduh ayahnya macam-macam, namun tidak berani bicara setelah tragedi terjadi.
Lebih jauh, ia juga menulis kalimat yang menggambarkan trauma mendalam:
“Kenapa kemarin kalian tidak menolong bapak saya ketika bapak saya dihajar sama bajingan-bajingan itu! Semoga itu tidak menimpa keluarga kalian.”
Unggahan itu kemudian mendapat banyak komentar dari warganet yang ikut bersimpati. Banyak yang mendoakan agar pelaku mendapat hukuman setimpal, sementara sebagian lainnya meminta agar keluarga korban tetap kuat menghadapi cobaan berat ini.
Reaksi Warga dan Kondisi Lingkungan Sekitar
Warga sekitar mengaku terkejut dan prihatin dengan kejadian tersebut. Mereka tidak menyangka perselisihan kecil di malam hari bisa berujung pada kematian seorang lansia yang dikenal cukup tegas namun baik hati. Salah satu tetangga menyebut bahwa korban sering kali menegur anak muda yang berbuat gaduh di lingkungan itu. “Pak Hena orangnya memang tegas, tapi tidak pernah jahat. Dia cuma nggak suka kalau malam-malam orang ribut di depan rumah,” ujar seorang warga.
Namun rupanya, ketegasan itu justru membuatnya bersinggungan dengan beberapa orang di sekitar. Bahkan dari keterangan anak korban, sang ayah pernah difitnah menanam ganja agar masuk penjara. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa korban sudah lama menjadi sasaran kebencian sebagian orang.
Polisi Janji Usut Tuntas
Hingga sore hari setelah penemuan jasad korban, polisi terus melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Beberapa barang bukti berupa batu dan pecahan bambu diamankan untuk diperiksa di laboratorium forensik. Polisi juga melakukan olah TKP lanjutan dan memintai keterangan sejumlah saksi tambahan, termasuk warga yang sempat melerai kejadian pada malam nahas itu.
AKP Bagus menegaskan, “Kami berkomitmen mengusut tuntas kasus ini. Kepada keluarga korban kami minta bersabar, karena setiap proses hukum butuh waktu. Tapi kami pastikan pelaku akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Keluarga Minta Keadilan
Di sisi lain, keluarga korban masih diselimuti kesedihan mendalam. Anak korban, Thiee Theaa, menegaskan bahwa mereka akan menempuh jalur hukum dan tidak akan berhenti sebelum pelaku dihukum seberat-beratnya. Ia juga menuntut ganti rugi atas kerusakan rumah akibat aksi brutal tersebut.
“Saya tidak akan diam. Saya akan kejar orang yang sudah membunuh bapak saya dan merusak rumah saya. Kami tidak akan menyerah sampai mereka dihukum!” tulisnya dalam unggahan lanjutan.
Kata-kata itu menggambarkan kemarahan sekaligus tekad kuat untuk mencari keadilan bagi sang ayah yang telah tiada. Bagi Thiee, kematian ayahnya bukan sekadar kehilangan, tetapi juga luka batin yang dalam akibat pengkhianatan dan ketidakpedulian lingkungan sekitar.
Duka yang Tak Terbayar
Kasus pembunuhan lansia di Pamanukan, Subang ini menjadi pengingat kelam tentang bahaya amarah dan pengaruh alkohol. Teguran sederhana yang seharusnya tidak berujung konflik malah berakhir dengan hilangnya nyawa seorang ayah yang dicintai keluarganya.
Kini, anak korban hanya bisa berharap agar keadilan benar-benar ditegakkan. “Jangan pikir saya diam saja,” tulisnya tegas — sebuah pesan bahwa cinta anak kepada orang tuanya tak akan pernah padam, sekalipun nyawa telah terenggut oleh kebrutalan manusia.
