Jakarta – Harga sejumlah komoditas pangan pokok di Indonesia masih menunjukkan tren fluktuatif pada awal Oktober 2025. Berdasarkan laporan Badan Pangan Nasional (Bapanas), beberapa bahan kebutuhan utama seperti telur ayam ras, minyak goreng curah, dan beras premium kini tercatat berada di atas harga acuan penjualan (HAP).
Sebaliknya, komoditas seperti daging ayam ras, daging sapi murni, bawang merah, dan cabai merah justru mengalami penurunan di bawah harga acuan nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan nasional masih menghadapi tantangan, terutama pada sektor bahan pokok dengan permintaan tinggi.
Telur Ayam Ras Masih di Atas HAP
Harga telur ayam ras menjadi sorotan utama. Berdasarkan data Panel Harga Pangan Bapanas per Rabu (8/10/2025) pukul 07.30 WIB, harga rata-rata nasional telur ayam ras mencapai Rp30.407 per kilogram, atau 1,36% lebih tinggi dari HAP nasional sebesar Rp30.000 per kilogram.
Kenaikan ini disinyalir akibat biaya pakan yang meningkat serta tingginya permintaan menjelang akhir tahun. Di sejumlah daerah, terutama wilayah Jawa Barat dan Sumatra, harga telur bahkan tembus di atas Rp31.000 per kilogram.
Pedagang di pasar tradisional menyebutkan, pasokan telur dari peternak masih belum sepenuhnya stabil. Selain itu, lonjakan harga pakan ayam dan distribusi logistik yang belum lancar turut berpengaruh pada harga jual di tingkat konsumen.
Minyak Goreng Curah Belum Mengalami Penurunan
Selain telur, harga minyak goreng curah juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Secara nasional, harga rata-rata berada di angka Rp17.467 per liter, atau lebih tinggi 11,25% dibandingkan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah untuk merek Minyakita, yakni Rp15.700 per liter.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat masih mengeluhkan harga minyak goreng yang sulit turun ke tingkat normal. Menurut sejumlah analis, kenaikan harga minyak disebabkan oleh fluktuasi harga crude palm oil (CPO) di pasar global dan biaya transportasi dalam negeri yang meningkat.
Pemerintah melalui Bapanas dan Kementerian Perdagangan disebut terus berupaya menekan harga dengan memperkuat pasokan dari produsen serta menambah operasi pasar.
Beras Premium Naik di Semua Zona Wilayah
Tren kenaikan harga juga terjadi pada beras premium. Berdasarkan data Bapanas, harga rata-rata beras premium nasional kini mencapai Rp16.149 per kilogram, naik 8,38% dari HET nasional yang dipatok sebesar Rp14.900 per kilogram.
Kenaikan ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan merata di seluruh zona:
- Zona 1: Rp15.607 per kilogram
- Zona 2: Rp16.631 per kilogram
- Zona 3: Rp17.900 per kilogram
Sebagai perbandingan, HET beras premium di masing-masing zona adalah Rp14.900, Rp15.400, dan Rp15.800 per kilogram. Artinya, seluruh zona kini mencatat harga yang lebih tinggi dari batas acuan pemerintah.
Analis pangan menilai, kenaikan harga beras dipicu oleh penurunan produksi akibat musim kering, serta kenaikan ongkos distribusi. Selain itu, sebagian daerah masih bergantung pada stok impor dan cadangan Bulog, yang menyebabkan harga sulit terkendali.
Beras Medium Mulai Turun di Beberapa Wilayah
Berbeda dengan beras premium, beras medium mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan harga di sejumlah daerah. Namun, secara nasional, harga rata-rata beras medium justru naik tipis menjadi Rp13.895 per kilogram, atau sekitar 2,93% lebih tinggi dari HET nasional sebesar Rp12.500 per kilogram.
Adapun rincian harga rata-rata per zona adalah:
- Zona 1: Rp13.742 per kilogram
- Zona 2: Rp13.577 per kilogram
- Zona 3: Rp15.850 per kilogram
Bapanas berharap program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digulirkan melalui Beras Bulog dapat membantu menekan kenaikan harga di tingkat konsumen.
Harga Beras SPHP Bulog Masih Stabil
Untuk jenis beras SPHP atau beras dari Bulog, kenaikan harga terpantau sangat tipis, hanya 0,26% dari HET nasional. Harga rata-rata di tingkat konsumen saat ini mencapai Rp12.533 per kilogram, sedikit di atas HET Rp12.500 per kilogram.
Meski begitu, jika dilihat per zona, harga beras SPHP masih di bawah acuan nasional:
- Zona 1: Rp12.295 per kilogram
- Zona 2: Rp12.868 per kilogram
- Zona 3: Rp13.375 per kilogram
Kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui distribusi beras SPHP masih efektif dalam menjaga stabilitas harga di pasar.
Bawang Merah dan Bawang Putih Mengalami Penurunan
Sementara itu, harga bawang merah justru mengalami penurunan. Berdasarkan data Bapanas, harga rata-rata nasional bawang merah kini sebesar Rp38.483 per kilogram, atau turun 7,27% dari HAP nasional yang ditetapkan sebesar Rp36.500 per kilogram.
Penurunan ini disebabkan oleh melimpahnya hasil panen di sejumlah daerah sentra produksi, seperti Brebes dan Nganjuk.
Tak hanya itu, bawang putih bonggol juga turun 3,59% menjadi Rp38.563 per kilogram, dari HAP nasional yang berkisar antara Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Dengan turunnya dua komoditas ini, diharapkan harga bumbu dapur dapat kembali stabil di pasaran menjelang akhir tahun.
Cabai Merah dan Cabai Rawit Mulai Terkoreksi
Harga cabai rawit merah juga mengalami penurunan cukup tajam. Secara nasional, harganya kini berada di kisaran Rp47.045 per kilogram, atau turun 17,46% dari HAP nasional yang berkisar Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.
Sementara itu, cabai merah keriting mencatat harga rata-rata Rp54.955 per kilogram, turun 0,08% dari HAP nasional Rp37.000–Rp55.000 per kilogram.
Penurunan harga cabai ini terjadi karena pasokan dari daerah penghasil seperti Garut, Temanggung, dan Enrekang meningkat seiring membaiknya kondisi cuaca.
Gula Konsumsi Masih Lebih Tinggi dari Acuan
Untuk gula konsumsi, harga rata-rata nasional masih berada di atas acuan. Bapanas mencatat, harga gula konsumsi kini mencapai Rp18.477 per kilogram, atau lebih tinggi 5,58% dibandingkan HAP nasional Rp17.500 per kilogram.
Faktor yang memengaruhi kenaikan ini antara lain produksi tebu yang menurun, biaya logistik yang meningkat, serta harga gula mentah (raw sugar) dunia yang belum stabil.
Pemerintah Pantau Ketat Pergerakan Harga Pangan
Badan Pangan Nasional menyatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan harga harian, terutama menjelang akhir tahun di mana permintaan biasanya meningkat. Langkah-langkah strategis seperti operasi pasar murah, penambahan stok cadangan pangan pemerintah (CPP), serta kerja sama dengan produsen besar tengah digencarkan untuk menjaga ketersediaan bahan pokok.
Bapanas juga berkomitmen memastikan bahwa harga di tingkat petani tetap menguntungkan, tanpa membebani konsumen. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mewujudkan stabilitas harga pangan nasional yang berkelanjutan.
Data terbaru Bapanas per Oktober 2025 menunjukkan bahwa harga pangan nasional masih berfluktuasi. Komoditas seperti telur ayam ras, minyak goreng curah, beras premium, dan gula konsumsi masih tercatat naik di atas harga acuan. Sebaliknya, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah justru menunjukkan penurunan.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat distribusi pangan dan intervensi pasar agar harga bahan pokok tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
