Subang Info – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada awal perdagangan Jumat, 26 September 2025. Pergerakan ini menambah tekanan pada mata uang Garuda setelah sempat stabil dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data pasar spot, saat pembukaan perdagangan, kurs dolar AS diperdagangkan setara dengan Rp 16.755. Angka tersebut menandai pelemahan tipis sekitar 0,03% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Namun depresiasi rupiah tidak berhenti di level pembukaan. Seiring berjalannya aktivitas pasar, rupiah terus kehilangan tenaga. Pada pukul 09.04 WIB, rupiah tercatat melemah 0,21% ke posisi Rp 16.785 per dolar AS.
Posisi ini menjadi titik terlemah rupiah sejak 28 April 2025, atau hampir lima bulan terakhir.
Rupiah Bukan Satu-Satunya yang Tertekan
Meski rupiah mencatat pelemahan, kondisi serupa juga melanda mayoritas mata uang Asia lainnya. Sejumlah kurs utama di kawasan regional kompak terdepresiasi terhadap dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan bukan hanya faktor domestik, melainkan juga dipengaruhi sentimen global.
Jika dibandingkan dengan mata uang negara lain, pelemahan rupiah justru relatif lebih ringan. Beberapa mata uang Asia bahkan mengalami penurunan yang jauh lebih tajam. Fakta ini menunjukkan bahwa rupiah masih mendapat dukungan dari faktor internal meski tekanan eksternal sedang tinggi.
Faktor Global yang Membayangi
Ada beberapa faktor eksternal yang menjadi pemicu pelemahan nilai tukar mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah. Pertama, kebijakan moneter ketat yang terus dijalankan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi bahwa suku bunga acuan masih akan bertahan tinggi membuat dolar AS semakin perkasa.
Kedua, kondisi geopolitik yang masih bergejolak turut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven). Investor global cenderung mengalihkan portofolio mereka dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, data ekonomi AS yang relatif kuat juga memberi sinyal bahwa perekonomian Negeri Paman Sam masih cukup solid. Hal tersebut semakin memperbesar selera investor untuk menahan aset berbasis dolar.
Sentimen Domestik Tak Kalah Berpengaruh
Di sisi lain, faktor domestik juga turut memberi tekanan pada rupiah. Defisit neraca perdagangan, kebutuhan impor energi, serta dinamika pasar obligasi turut menjadi sorotan.
Pelaku pasar juga menanti kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk merespons kondisi ini. Apakah BI akan menahan suku bunga acuan, atau justru mengambil langkah intervensi yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.
Perkembangan inflasi dalam negeri, realisasi belanja pemerintah, serta kinerja ekspor-impor diperkirakan menjadi variabel penting yang memengaruhi arah rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Rupiah di Level Terendah, Apa Dampaknya?
Pelemahan rupiah hingga ke level Rp 16.785 per dolar AS tentu membawa dampak bagi perekonomian domestik. Bagi importir, terutama di sektor energi dan pangan, depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya transaksi. Hal ini berpotensi mendorong inflasi jika harga barang impor naik dan diteruskan ke konsumen.
Namun bagi eksportir, terutama yang menjual produk ke pasar global dengan pembayaran dolar AS, pelemahan rupiah justru memberi keuntungan. Nilai konversi dolar ke rupiah yang lebih besar bisa meningkatkan pendapatan mereka dalam mata uang lokal.
Meski begitu, kondisi ini tetap harus diwaspadai. Jika depresiasi rupiah berlangsung terlalu lama, daya beli masyarakat dapat tertekan dan pertumbuhan ekonomi bisa melambat.
Prospek ke Depan
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Selama dolar AS masih kuat akibat kebijakan moneter The Fed, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas.
Namun intervensi Bank Indonesia, baik melalui operasi moneter maupun pengelolaan cadangan devisa, dapat membantu menjaga stabilitas. Investor juga menanti data-data ekonomi terbaru, baik dari dalam negeri maupun global, yang bisa menjadi pemicu arah pergerakan berikutnya.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.850 per dolar AS. Sementara dalam jangka menengah, prospek penguatan baru akan lebih terbuka jika The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran kebijakan suku bunga.
Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada Jumat, 26 September 2025, dan menembus Rp 16.785 per dolar. Angka ini menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir. Meski demikian, pelemahan rupiah masih lebih ringan dibandingkan dengan sejumlah mata uang Asia lain.
Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global, seperti kebijakan moneter ketat The Fed dan ketidakpastian geopolitik, serta faktor domestik seperti kondisi perdagangan dan kebutuhan impor.
Pelemahan rupiah membawa dampak beragam: menguntungkan eksportir, namun berisiko menekan importir dan inflasi. Ke depan, pasar akan menunggu langkah Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global yang bisa memengaruhi arah nilai tukar.
