Close Menu
Subanginfo.idSubanginfo.id
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

14 Tahun Melayani, Klinik Happy Healthy Jadikan Ulang Tahun sebagai Momentum Berbagi

7 November 2026

DPRD Jabar Dorong Dukungan Anggaran untuk 86 Rumah Sakit, RSUD Subang Masuk Skema Perlindungan Kesehatan

6 November 2026

Ceng Malki DPRD Jabar Soroti Penggerebekan Asrama Putri Hamalatul Qur’an, Desak Pemulihan Trauma Santriwati

6 November 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Subanginfo.idSubanginfo.id
Sabtu, November 7
Facebook Instagram TikTok
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Subanginfo.idSubanginfo.id
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Home»Hukum»Yuk Kenali Bahaya Mabuk, Pengamen di Pamanukan Tega Habisi Lansia
Hukum

Yuk Kenali Bahaya Mabuk, Pengamen di Pamanukan Tega Habisi Lansia

RedaksiBy Redaksi4 Oktober 2025Tidak ada komentar7 Mins Read
WhatsApp Facebook Copy Link Telegram Email Tumblr Threads
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email WhatsApp Copy Link

Pamanukan – Peristiwa tragis kembali mengguncang masyarakat Pantura Subang. Seorang pria lanjut usia ditemukan tewas di rumahnya setelah diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh tiga pria dalam keadaan mabuk alkohol. Kasus ini menjadi pengingat keras akan bahaya minuman keras dan dampaknya terhadap akal sehat, emosi, serta keselamatan nyawa orang lain.

Korban bernama Hena (66), warga Dusun Kedung Gede RT 24, Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Ia ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (4/10/2025) sekitar pukul 10.00 WIB. Tubuhnya mengalami luka akibat lemparan benda keras, diduga batu dan bambu, yang ditemukan berserakan di sekitar lokasi kejadian.


Kronologi Peristiwa: Teguran Berujung Petaka

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian dan sejumlah saksi, kejadian bermula pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Tiga pria yang belakangan diketahui berprofesi sebagai pengamen mendatangi rumah korban sambil berteriak-teriak mencari seseorang bernama Rendi, yang diketahui memiliki masalah dengan mereka.

Kegaduhan tersebut membuat warga sekitar terganggu, termasuk korban yang saat itu tengah beristirahat di rumahnya. Dengan niat menenangkan suasana, Hena keluar dari rumah dan menegur ketiga pria itu agar berhenti berteriak di tengah malam.

Namun teguran yang seharusnya bisa disikapi dengan tenang justru memicu amarah. Ketiga pelaku yang dalam kondisi mabuk berat akibat konsumsi minuman keras, langsung melempari rumah korban dengan batu. Warga sempat mencoba melerai, dan para pelaku akhirnya pergi meninggalkan lokasi.

Sayangnya, ketiganya kembali beberapa saat kemudian, masih dalam kondisi mabuk. Dengan emosi tak terkendali, mereka kembali melempari rumah korban menggunakan batu dan potongan bambu. Salah satu lemparan diduga mengenai tubuh Hena hingga menyebabkan luka fatal yang merenggut nyawanya.


Polisi Bergerak Cepat: Tiga Pelaku Ditangkap

Kepolisian Resor Subang yang menerima laporan dari warga segera mendatangi lokasi. Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono, melalui Kasatreskrim AKP Bagus Panuntun, membenarkan adanya dugaan tindak kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Korban tewas diduga akibat tindak kekerasan. Di TKP kami menemukan beberapa buah batu yang diduga digunakan pelaku untuk menyerang korban,” ungkap AKP Bagus Panuntun.

Polisi kemudian berhasil mengamankan tiga orang terduga pelaku, masing-masing berinisial MA (16), DS (28), dan K (30). Ketiganya diketahui sehari-hari bekerja sebagai pengamen dan diduga dalam keadaan mabuk saat kejadian berlangsung.

“Hingga sore ini ketiga orang terduga pelaku masih kami periksa. Kami akan mengusut tuntas kasus ini dan memastikan proses hukum berjalan seadil-adilnya,” tambah AKP Bagus.


Kondisi Mabuk, Pemicu Hilangnya Kendali dan Nurani

Kasus ini kembali membuka mata publik tentang bahaya mabuk alkohol. Dalam keadaan mabuk, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk berpikir logis dan mengendalikan emosi. Alkohol memengaruhi sistem saraf pusat, membuat seseorang bertindak impulsif, mudah marah, dan tidak mampu menilai situasi secara rasional.

Menurut para ahli kesehatan, alkohol bukan hanya memabukkan secara fisik, tetapi juga merusak fungsi moral dan sosial. Dalam banyak kasus kekerasan, mabuk alkohol menjadi pemicu utama karena menghapus rasa empati dan mengaburkan batas antara benar dan salah.

Apa yang dilakukan oleh ketiga pengamen itu mencerminkan betapa berbahayanya minuman keras ketika dikonsumsi tanpa kendali. Teguran seorang lansia yang seharusnya dihormati justru dianggap sebagai tantangan. Dalam kondisi sadar, mungkin mereka tak akan berani melakukan hal itu. Namun ketika alkohol mengambil alih pikiran, nilai kemanusiaan seolah lenyap begitu saja.


Korban Tak Berdosa, Lingkungan Berduka

Warga sekitar Dusun Kedung Gede masih terpukul dengan peristiwa tersebut. Hena dikenal sebagai sosok sederhana dan ramah. Ia tinggal sendirian di rumahnya setelah anak-anaknya merantau. Banyak warga yang tidak menyangka bahwa teguran kecil di malam hari justru menjadi penyebab kematian tragis sang lansia.

“Beliau orangnya baik, sering menyapa kalau lewat. Nggak pernah ribut sama siapa pun. Kami semua kaget waktu dengar beliau meninggal seperti itu,” tutur salah satu tetangga yang enggan disebut namanya.

Kematian Hena menjadi duka mendalam bagi keluarganya. Dalam sebuah unggahan media sosial yang kini viral, salah satu anak korban menumpahkan kesedihannya dengan kalimat penuh amarah dan kecewa terhadap lingkungan yang dianggap terlalu diam saat ayahnya dianiaya.

Unggahan itu menggambarkan betapa besar luka batin keluarga korban. Mereka bukan hanya kehilangan seorang ayah, tetapi juga menghadapi kenyataan pahit bahwa nyawa orang yang dicintai direnggut oleh orang-orang mabuk yang tak lagi punya akal sehat.


Fenomena Sosial: Alkohol dan Kekerasan di Indonesia

Kasus di Subang bukanlah satu-satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak peristiwa kriminal di Indonesia yang dipicu oleh mabuk alkohol. Dari perkelahian, kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan, hingga pembunuhan — alkohol sering kali menjadi faktor pemicu utama.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, konsumsi alkohol berlebih menjadi penyebab lebih dari 5% kasus kekerasan yang dilaporkan setiap tahunnya. Meski angka ini tampak kecil, dampaknya sangat besar karena banyak peristiwa tragis yang berawal dari mabuk sesaat namun berakhir dengan kehilangan nyawa.

Selain itu, WHO (World Health Organization) melaporkan bahwa sekitar 3 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat alkohol, baik secara langsung karena gangguan organ tubuh, maupun akibat tindakan kekerasan yang dipicu oleh mabuk.

Sayangnya, di sejumlah wilayah di Indonesia, akses terhadap minuman keras ilegal atau oplosan masih cukup mudah. Harga yang murah dan kontrol yang lemah membuat alkohol tetap beredar di masyarakat, terutama di kalangan remaja dan pekerja informal seperti pengamen atau buruh harian.


Mabuk dan Hilangnya Kesadaran Moral

Dalam pandangan sosial, mabuk bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga simbol hilangnya kesadaran moral. Orang yang mabuk kehilangan empati, sopan santun, dan kemampuan menahan diri.

Dalam kasus Hena, ketiga pelaku bahkan tak bisa membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. Mereka sedang mencari seseorang bernama Rendi, namun justru menyerang orang lain yang tidak tahu-menahu tentang masalah mereka. Ini adalah bentuk nyata dari hilangnya akal sehat akibat alkohol.

Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. L. Rahmawati, menjelaskan bahwa alkohol dapat mengubah kepribadian seseorang secara drastis. “Ketika seseorang mabuk, bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan dan kontrol emosi akan melemah. Ia cenderung agresif, tidak sabar, dan mudah melakukan kekerasan tanpa berpikir panjang,” ujarnya.

Hal ini menjelaskan mengapa banyak pelaku kejahatan menyesali perbuatannya setelah sadar dari pengaruh alkohol — tapi penyesalan itu datang terlambat. Nyawa yang melayang tidak bisa kembali.


Keluarga Korban Menuntut Keadilan

Pihak keluarga Hena berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. Mereka tidak ingin kejadian serupa menimpa keluarga lain. Selain kehilangan orang tua, mereka juga kehilangan rasa aman di lingkungan yang dulu dianggap tenang.

“Kami ingin keadilan ditegakkan. Jangan sampai orang yang mabuk seenaknya bisa membunuh orang tanpa konsekuensi,” ujar salah satu anggota keluarga korban kepada wartawan.

Keluarga juga meminta pemerintah daerah lebih tegas dalam menertibkan peredaran alkohol di lingkungan masyarakat. Banyak warga mengaku resah karena minuman keras oplosan dan alkohol ilegal masih bisa ditemukan dengan mudah, terutama di sekitar kawasan Pantura.


Peran Masyarakat dan Pemerintah

Tragedi di Subang seharusnya menjadi refleksi bersama. Mabuk alkohol bukan hanya urusan pribadi, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang menyangkut keselamatan publik. Karena itu, masyarakat harus berperan aktif dalam mencegah peredaran miras di lingkungannya.

Pemerintah daerah juga diharapkan memperketat pengawasan terhadap penjualan minuman keras, terutama di warung-warung kecil atau tempat hiburan malam. Edukasi tentang bahaya alkohol harus dilakukan sejak dini, baik di sekolah, komunitas, maupun lingkungan keluarga.

Kepolisian juga diharapkan meningkatkan patroli di wilayah rawan peredaran alkohol ilegal. Penegakan hukum yang konsisten menjadi langkah penting agar tragedi serupa tidak terulang kembali.


Pesan Moral dari Kasus Kedung Gede

Kematian Hena memberikan pelajaran penting bagi semua pihak. Alkohol mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya sangat fatal. Dalam sekejap, alkohol dapat mengubah seseorang yang semula baik menjadi pelaku kekerasan yang kejam.

Kehilangan kontrol diri bukan alasan untuk menghapus tanggung jawab moral. Setiap manusia memiliki pilihan untuk tidak minum, untuk tidak mabuk, dan untuk tidak melukai orang lain. Namun ketika pilihan itu diabaikan, konsekuensinya bisa berujung maut.

Kasus ini juga mengingatkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, bisa berdampak besar. Sebuah teguran sederhana dari seorang lansia, yang seharusnya membawa ketenangan, justru menjadi awal dari bencana karena ego yang tersulut alkohol.


Saat Alkohol Menghapus Akal dan Nurani

Peristiwa di Subang adalah potret nyata bagaimana mabuk alkohol bisa menghapus nalar dan hati nurani manusia. Tiga pria yang mabuk telah menghancurkan dua kehidupan sekaligus — kehidupan korban yang kehilangan nyawa, dan kehidupan mereka sendiri yang kini harus dihabiskan di balik jeruji penjara.

Kematian Hena bukan hanya tragedi keluarga, tapi juga peringatan keras bagi masyarakat luas: mabuk bukan sekadar kehilangan keseimbangan, tapi kehilangan kemanusiaan.

Setiap botol alkohol yang dibuka tanpa kendali, membawa risiko besar bagi siapa pun di sekitarnya. Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah, “bukan alkohol yang membunuh manusia — tetapi manusia yang kehilangan akalnya karena alkohol.”

Alkohol Mabuk Pembunuhan
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Redaksi
  • Website

Redaksi Subang Info

Related Posts

Polres Subang Bongkar Kasus Pemerasan Oknum Wartawan terhadap ASN, Terancam 9 Tahun Penjara

31 Maret 2026

Kasus Korupsi Lahan Investasi VinFast di Subang, 5 Orang Ditetapkan Tersangka

14 Februari 2026

Tragedi Miras Oplosan Subang: 9 Orang Tewas, Polisi Tetapkan 2 Tersangka

14 Februari 2026

Pesta Berujung Maut! 9 Tewas Usai Tenggak Vodka Oplosan Campur Energi, Polres Subang Gerak Cepat Amankan Pelaku

12 Februari 2026

OTT Bea Cukai, KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap dan Gratifikasi Impor

6 Februari 2026

Tabrakan Beruntun di Tol Cipali Subang KM 93, 3 Penumpang APV Meninggal Dunia

4 Februari 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Don't Miss
Artikel

14 Tahun Melayani, Klinik Happy Healthy Jadikan Ulang Tahun sebagai Momentum Berbagi

7 November 2026

Subang – Memperingati hari ulang tahun ke-14, Klinik Happy Healthy yang lebih dikenal masyarakat sebagai…

DPRD Jabar Dorong Dukungan Anggaran untuk 86 Rumah Sakit, RSUD Subang Masuk Skema Perlindungan Kesehatan

6 November 2026

Ceng Malki DPRD Jabar Soroti Penggerebekan Asrama Putri Hamalatul Qur’an, Desak Pemulihan Trauma Santriwati

6 November 2026

DPRD Jabar Ingatkan Risiko Tunda Bayar Proyek Infrastruktur Usai Pinjaman Rp3,4 Triliun Batal

6 November 2026
Our Picks
Stay In Touch
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Facebook Instagram TikTok
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman media
© 2026 subanginfo.id

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.