Oleh : H. Yogi (Wakil Ketua GP Cabang Ansor Subang)
Subang Info – Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan tradisi yang beragam. Salah satu warisan pendidikan yang telah lama menjadi bagian dari sejarah bangsa adalah pondok pesantren. Lembaga pendidikan berbasis agama ini telah berdiri selama puluhan bahkan ratusan tahun, dan berperan penting dalam mencetak tokoh-tokoh besar di bidang keagamaan maupun kebangsaan.
Namun, di tengah peringatan Hari Santri yang seharusnya menjadi momen kebanggaan, muncul sebuah tayangan dari salah satu stasiun televisi nasional yang menimbulkan luka bagi kalangan pesantren. Tayangan dari media besar tersebut dinilai menyudutkan pesantren dengan narasi negatif, menggambarkannya sebagai tempat yang kuno, ortodoks, bahkan sarat dengan feodalisme.
Kekecewaan mendalam datang dari H. Yogi Anwar Sanusi, Ketua MDS Rijalul Ansor Subang sekaligus alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Faqih Tasikmalaya. Ia menilai tayangan tersebut mencederai martabat pesantren serta melecehkan nilai luhur yang telah dijaga selama berabad-abad.
Menurut H. Yogi, penghormatan kepada guru atau kyai merupakan ajaran pokok dalam tradisi pesantren. Begitu pula dengan budaya gotong royong dan menjaga kebersihan lingkungan yang menjadi ciri khas kehidupan para santri. “Apakah nilai-nilai luhur seperti ini pantas disebut sebagai bentuk perbudakan?” ujarnya dengan nada kecewa.
Sebagai bentuk protes, H. Yogi menyerukan gerakan untuk memboikot media Trans7 yang dianggap telah menyinggung para santri dan alumni pesantren di seluruh Indonesia. Ia juga menuntut pihak stasiun televisi tersebut untuk segera meminta maaf secara terbuka atas tayangan yang dinilai merendahkan dunia pesantren.
Baginya, penghormatan terhadap pesantren bukan hanya soal lembaga pendidikan, melainkan bagian dari upaya menjaga marwah budaya dan moral bangsa Indonesia.
