Close Menu
Subanginfo.id
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tak Bisa Bicara dan Hanya Terbaring, Dedi Kini Dibantu Dokter Maxi

28 Mei 2026

Komisi I DPRD Jabar Dukung Penguatan Lembaga Penyiaran di Tengah Dominasi Media Sosial

28 Mei 2026

Komisi V DPRD Jabar Dukung Program Sekolah Lansia Perempuan ‘Nyaah Ka Indung’

28 Mei 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Subanginfo.idSubanginfo.id
Jumat, Mei 29
Facebook Instagram TikTok
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Subanginfo.id
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • Subang
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
Home»Opini»Dari Jalanan ke Jeritan: Mahasiswa dan Masyarakat, Perlawanan untuk Ende
Opini

Dari Jalanan ke Jeritan: Mahasiswa dan Masyarakat, Perlawanan untuk Ende

HafidhBy Hafidh11 April 2026Updated:11 April 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
WhatsApp Facebook Copy Link Telegram Email Tumblr Threads
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email WhatsApp Copy Link

Oleh: Hamid Muhammad (Aktivis Sosial Ende)

Gelombang pertama demonstrasi tercatat pada Kamis, 26 Maret 2026, ketika mahasiswa dan warga turun ke jalan menolak rencana penggusuran lapak dan bangunan di kawasan pesisir Ndao dan sejumlah pedagang di Ende. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak memiliki kejelasan solusi bagi warga terdampak. Media seperti Digtara.com dan GardaFlores.com melaporkan bahwa massa mendesak pemerintah untuk menghentikan rencana tersebut sampai ada pendekatan yang lebih manusiawi dan partisipatif.
Ketegangan tidak mereda. Pada awal April 2026, aksi lanjutan terus berlangsung, menandakan bahwa tuntutan masyarakat belum mendapat respons yang memadai. Bahkan menurut laporan RRI (awal April 2026), demonstrasi telah terjadi berulang kali, menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Puncak aksi terjadi pada Rabu, 8 April 2026, ketika massa kembali mendatangi kantor Bupati Ende. Dalam aksi ini, PMKRI dan warga melakukan orasi terbuka, menuntut dialog langsung dengan kepala daerah. Namun, ketiadaan respons konkret memicu kekecewaan yang memuncak dalam bentuk aksi pembakaran ban di depan kantor bupati, sebagaimana dilaporkan oleh Florespos.net, GlobalFlores.com, dan VictoryNews.id (8 April 2026).
Situasi bahkan sempat memanas ketika aparat Satpol PP mencoba mengendalikan massa. Savanaparadise.com (8 April 2026) mencatat adanya ketegangan antara demonstran dan aparat saat upaya pemadaman api berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan masih lebih dominan dibanding pendekatan dialogis dalam merespons aspirasi masyarakat.
Yang membuat aksi ini semakin menyentuh adalah keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk pelajar. Dalam laporan Ekorantt.com pada 9 April 2026, seorang pelajar menyuarakan ketakutan bahwa penggusuran lapak orang tuanya akan berdampak pada kelangsungan pendidikannya. Pernyataan ini mempertegas bahwa kebijakan publik yang diambil tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menyentuh masa depan generasi muda.
Selain itu, beberapa media lokal seperti FloresTerkini.com, NTTExpress.com, dan PosKupang.com (periode 26 Maret – 9 April 2026) turut menyoroti bahwa warga merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan kebijakan. Tidak adanya sosialisasi yang memadai.
Aksi PMKRI di Ende juga menunjukkan bahwa demokrasi tidak berhenti di bilik suara. Ketika saluran formal tidak berjalan, jalanan menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan aspirasi. Ini bukan tanda kegagalan masyarakat, melainkan sinyal bahwa pemerintah perlu membuka ruang dialog yang lebih inklusif.
Pada akhirnya, konflik di Ende adalah pengingat bahwa pembangunan sejati tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang manusia. Tanpa keadilan sosial dan partisipasi publik, pembangunan hanya akan menjadi proyek yang rapuh mudah runtuh oleh ketidakpuasan rakyatnya sendiri.

Hafidh
Author: Hafidh

jurnalis

Ende Pesisir Ndao
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Hafidh

    jurnalis

    Related Posts

    Sisingaan sebagai Ruang Hidup Budaya Masyarakat Subang

    20 Desember 2025

    Sumpah Pemuda: Refleksi Semangat Persatuan dalam Konteks Kekinian

    23 Oktober 2025

    Kado Pahit di Hari Santri: Suara Kekecewaan dari Dunia Pesantren

    15 Oktober 2025

    Gemuruh Gelombang Aksi di Solo dan Nasional, Antara Aksi Damai dan Krisis Kepercayaan

    2 September 2025

    Kondisi Indonesia : Krisis Demokrasi dan Ancaman Darurat Militer

    1 September 2025

    17+8 Tuntutan Rakyat, 1 Demokrasi yang Terluka

    1 September 2025
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Artikel

    Tak Bisa Bicara dan Hanya Terbaring, Dedi Kini Dibantu Dokter Maxi

    28 Mei 2026

    Subang – Pemilik Klinik Happy Healthy, Dokter Maxi, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat kurang mampu…

    Komisi I DPRD Jabar Dukung Penguatan Lembaga Penyiaran di Tengah Dominasi Media Sosial

    28 Mei 2026

    Komisi V DPRD Jabar Dukung Program Sekolah Lansia Perempuan ‘Nyaah Ka Indung’

    28 Mei 2026

    Komisi V DPRD Jabar Dorong Sekolah Maung Jadi Model Pendidikan Berkualitas dan Berdaya Saing Global

    28 Mei 2026
    Our Picks
    Stay In Touch
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo

    Subscribe to Updates

    Facebook Instagram TikTok
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Pedoman media
    © 2026 subanginfo.id

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.